Bendungan Danau Koto Kari Sebagai Sumber Utama Irigasi Pertanian
KOTO KARI — Bendungan Danau Koto Kari yang dibangun pada tahun
2004 hingga kini menjadi sumber utama irigasi pertanian padi bagi masyarakat di
Desa Koto Kari, Desa Pulau Banjar, dan Desa Pulau Godang. Bendungan ini
memanfaatkan aliran sungai yang dibendung untuk memenuhi kebutuhan air lahan
persawahan warga di wilayah tersebut. Keberadaannya sangat dibutuhkan karena
hampir seluruh aktivitas pertanian padi masyarakat setempat sepenuhnya
bergantung pada pasokan air dari bendungan, baik pada musim hujan maupun musim
kemarau.
Air dari Bendungan Danau Koto Kari dialirkan ke lahan persawahan melalui
jaringan saluran irigasi yang terhubung langsung dari bendungan. Sistem irigasi
ini menjadi satu-satunya sarana pengairan bagi pertanian padi di ketiga desa
tersebut. Tanpa adanya aliran air dari bendungan, lahan persawahan berisiko
mengalami kekeringan dan menghambat proses bercocok tanam. Oleh karena itu,
keberlangsungan sistem irigasi menjadi faktor penting dalam menjaga
produktivitas pertanian padi masyarakat.
Untuk memastikan
pembagian air berjalan merata, pengelolaan dan pendistribusian air dilakukan
oleh kelompok tani yang telah dibentuk di wilayah tersebut. Kelompok tani
berperan mengatur aliran air ke masing-masing saluran irigasi agar seluruh
sawah petani tetap mendapatkan pasokan sesuai kebutuhan. Pengaturan ini juga
bertujuan mencegah terjadinya perebutan air antarpetani, terutama saat
kebutuhan air meningkat pada masa tanam.
Salah seorang petani
setempat, Joko Saputra, mengatakan bahwa sistem pembagian air yang dikelola
oleh kelompok tani sangat membantu petani dalam mengelola sawah. Menurutnya,
adanya aturan dan pembagian yang jelas membuat kegiatan pertanian berjalan
lebih tertib dan terkoordinasi. “Airnya diatur oleh kelompok tani, jadi
sudah ada pembagiannya dan tidak rebutan,” ujarnya.
Dalam satu tahun,
petani di wilayah tersebut umumnya melakukan masa tanam padi sebanyak dua kali,
meskipun waktu tanamnya tidak menentu. Kebutuhan air paling besar biasanya
terjadi pada awal masa tanam, saat lahan mulai diolah dan bibit padi ditanam.
Pada fase ini, ketersediaan air menjadi faktor utama keberhasilan tanam karena
sawah membutuhkan pasokan air yang cukup dan berkelanjutan agar pertumbuhan
padi dapat berjalan optimal. “Waktu mau menanam padi, air memang paling
dibutuhkan,” kata Joko.
Meski demikian, petani
tidak terlalu bergantung pada kondisi cuaca karena pasokan air dari bendungan
relatif stabil sepanjang tahun. Bahkan ketika musim kemarau tiba, lahan
persawahan tetap mendapatkan aliran air yang cukup sehingga tidak mengalami
kekeringan. Kondisi ini memberikan rasa aman bagi petani dalam
merencanakan masa tanam dan mengelola lahan pertanian mereka. “Walaupun
musim kemarau, sawah tidak kering karena sumber airnya memang dari bendungan,”
ujarnya.
Keberadaan Bendungan Danau Koto Kari dinilai sangat penting karena tanpa
pasokan air, pertanian padi berisiko mengalami gagal panen dan berdampak pada
perekonomian masyarakat. Sejak awal pembangunannya, bendungan ini memang
dirancang sebagai sumber utama pengairan lahan persawahan warga sekitar.
Meskipun bendungan sempat dikeringkan pada tahun 2011, hingga kini bendungan
tersebut tidak pernah benar-benar kering karena aliran sungai tetap mengalir
sebagai sumber air utama.
Para petani berharap Bendungan Danau Koto Kari terus dijaga dan dirawat
agar fungsinya sebagai sumber irigasi utama tetap terjaga. Keberlanjutan
bendungan ini dinilai sangat menentukan masa depan pertanian padi di wilayah
tersebut, mengingat tidak adanya sumber air alternatif lain yang dapat
dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Penulis: Selsi Aulia
Komentar
Posting Komentar