Fenomena Pasang Keliling Kembali Rendam Tembilahan, Aktivitas Ekonomi Warga Terhambat

 

TEMBILAHAN/06/01/2026 - Fenomena banjir rob atau yang akrab disapa warga lokal sebagai "Pasang Keling" kembali merendam sejumlah jalan protokol dan kawasan pemukiman di Kota Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir. Kenaikan debit air laut yang terjadi sejak pagi hari ini menyebabkan aktivitas ekonomi lumpuh dan mobilitas warga terhambat.

Kenaikan permukaan air laut (Pasang Keling) mulai menggenangi jalanan utama seperti Jalan Sudirman, Jalan Hasanuddin, dan kawasan pasar di Tembilahan pada Selasa (6/1) pagi. Fenomena tahunan ini terjadi akibat puncak siklus pasang air laut yang masuk ke daratan, memaksa para pedagang, pekerja, hingga anak sekolah berjuang melintasi genangan air setinggi lutut orang dewasa.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Indragiri Hilir menyatakan bahwa siklus ini merupakan yang tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. "Kami mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam menjaga anak-anak dan instalasi listrik di rumah. Pasang Keling ini diprediksi akan mencapai puncaknya dalam tiga hari ke depan. Tim kami terus memantau titik-titik rawan untuk memastikan tidak ada warga yang terjebak atau mengalami keadaan darurat," ujar Kepala BPBD Inhil.

Akses menuju sekolah-sekolah di pusat kota turut terganggu. Banyak siswa yang terpaksa menjinjing sepatu dan melipat celana seragam untuk mencapai kelas. "Motor saya mogok di tengah jalan karena air masuk ke mesin. Terpaksa jalan kaki supaya tidak terlambat ujian, tapi baju sudah basah semua," ungkap Rian, salah seorang siswa SMA di Tembilahan.

Sektor perdagangan di Pasar Pagi Tembilahan menjadi yang paling terdampak. Air yang masuk ke dalam ruko membuat aktivitas jual beli terhenti total sejak pukul 08.00 WIB. Seorang pedagang sembako, Ibu Maryam, mengeluhkan kerugian yang dialaminya: "Kalau sudah pasang begini, pembeli tidak ada yang mau datang ke pasar. Barang-barang harus cepat diangkat ke meja yang lebih tinggi supaya tidak rusak terkena air asin. Kami hanya bisa menunggu air surut sekitar jam 12 siang nanti baru bisa mulai jualan lagi."

      Hingga berita ini diturunkan, genangan air masih terlihat di beberapa titik rendah di Kota Tembilahan. Warga dihimbau untuk tetap waspada terhadap potensi munculnya hewan melata seperti ular yang kerap terbawa arus pasang ke dalam pemukiman.

Penulis: Sindi Farwani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bendungan Danau Koto Kari Sebagai Sumber Utama Irigasi Pertanian

TARI RENTAK BULIAN, MEDIA PENYEMBUHAN DAN KOMUNIKASI SPIRITUAL DARI RIAU

Sungai Siak Tercemar Akibat Limbah Industri