Kehidupan Gajah di Taman Wisata Alam Buluh Cina Jadi Daya Tarik Wisata Edukatif
Kampar, 08 Januari 2026 –
Taman Wisata Alam Buluh Cina yang terletak di Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten
Kampar, terus menjadi salah satu destinasi wisata alam yang diminati
masyarakat. Kawasan ini menyuguhkan panorama danau alami, hutan tropis yang
masih hijau, serta suasana pedesaan yang tenang dan asri. Di balik keindahan
alamnya, Buluh Cina juga dikenal sebagai kawasan konservasi satwa, khususnya
gajah, yang menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung dari berbagai daerah.
Desa
Buluh Cina sendiri merupakan desa yang masih kental dengan nuansa alam dan
kehidupan masyarakat yang sederhana. Rumah-rumah warga berdiri di antara
pepohonan rindang, sementara aktivitas masyarakat sehari-hari masih banyak
bergantung pada alam, seperti berkebun, menangkap ikan di danau, serta
mengelola wisata alam. Kehadiran Taman Wisata Alam Buluh Cina memberikan dampak
positif bagi masyarakat setempat, baik dari segi ekonomi maupun kesadaran akan
pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Di kawasan wisata ini hidup tiga
ekor gajah dengan karakter dan cerita yang berbeda, yakni Dona, Ngatini, dan
Robert. Ketiganya dirawat dan diawasi secara langsung oleh para pawang
berpengalaman yang telah lama tinggal dan bekerja di Buluh Cina. Kehidupan
ketiga gajah tersebut kini menjadi perhatian publik karena menghadirkan sisi
lain dari wisata alam yang tidak hanya bersifat rekreatif, tetapi juga edukatif
dan sarat nilai konservasi.
Dona
merupakan anak gajah betina yang masih berusia 1 tahun 2 bulan. Meski usianya
masih sangat muda, Dona terlihat aktif dan ceria. Tingkah lakunya yang lincah
sering kali menarik perhatian pengunjung yang datang bersama keluarga. Di
tengah suasana alam yang tenang dan udara yang sejuk, Dona kerap bermain di
area terbuka sambil sesekali mendekati pengunjung di bawah pengawasan pawang. Menurut
Manghot, pawang yang sehari-hari merawat Dona, anak gajah ini memiliki nafsu
makan yang baik dan sudah mengenali jenis makanan favoritnya. “Dona paling suka
jagung dan semangka. Kalau melihat makanan itu, dia langsung bersemangat dan
mendekat,” tutur Manghot. Kebiasaan Dona ini menjadi daya tarik tersendiri bagi
wisatawan, terutama anak-anak, yang dapat melihat secara langsung perilaku
alami anak gajah.
Dona
sering terlihat bermain di sekitar induknya, Ngatini, yang merupakan gajah
betina dewasa berusia sekitar 25 tahun. Usia tersebut, kata Manghot, merupakan
usia matang bagi gajah betina dan menunjukkan kondisi fisik yang masih kuat.
Ngatini dikenal memiliki sifat tenang, sabar, dan protektif terhadap anaknya.
Dalam suasana alam Buluh Cina yang masih alami, Ngatini tampak menjalani
kehidupannya dengan stabil dan nyaman. Interaksi antara Dona dan Ngatini kerap menjadi pemandangan menarik bagi
pengunjung. Di sela-sela suara alam dan aktivitas masyarakat desa, pengunjung
dapat menyaksikan bagaimana induk gajah membimbing anaknya, mulai dari cara
berjalan, makan, hingga berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Dari
pemandangan ini, masyarakat dapat belajar tentang ikatan keluarga gajah, pola
pengasuhan anak, serta perilaku sosial yang kuat di antara sesama satwa.
Sementara itu, gajah jantan bernama Robert memiliki peran
dan karakter yang berbeda. Robert merupakan gajah dewasa dengan postur tubuh
besar dan tenaga yang kuat. Pada bulan Januari ini, Robert diketahui memasuki
masa kawin. Kondisi ini menyebabkan perubahan perilaku yang cukup signifikan,
seperti menjadi lebih agresif dan sulit dikendalikan, sehingga memerlukan
penanganan khusus. Menurut Manghot, demi menjaga keselamatan satwa lain,
pawang, serta pengunjung, Robert harus dipisahkan sementara dari istri dan
anaknya. “Saat masa kawin, gajah jantan memang perlu penanganan khusus.
Pemisahan ini dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,”
jelasnya. Meski dipisahkan, Robert tetap dirawat dengan baik dan berada dalam
pengawasan ketat agar kondisi fisik dan mentalnya tetap stabil.
Pengelola Taman Wisata Alam Buluh Cina menegaskan bahwa
setiap langkah pengelolaan satwa dilakukan dengan mempertimbangkan
kesejahteraan hewan dan keamanan pengunjung. Masyarakat Desa Buluh Cina juga
turut dilibatkan dalam pengelolaan kawasan wisata, mulai dari menjaga
kebersihan, membantu operasional wisata, hingga memberikan edukasi kepada
pengunjung tentang pentingnya menjaga alam dan satwa. Keberadaan Dona, Ngatini,
dan Robert menjadikan Taman Wisata Alam Buluh Cina lebih dari sekadar tempat
wisata. Kawasan ini tumbuh sebagai ruang belajar bagi masyarakat dan wisatawan
tentang konservasi, hubungan manusia dengan alam, serta kehidupan satwa liar.
Dengan suasana desa yang tenang, alam yang masih terjaga, dan dukungan pawang
profesional serta masyarakat setempat, Taman Wisata Alam Buluh Cina diharapkan
terus berkembang sebagai destinasi wisata alam berkelanjutan yang memberi
manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang.
Penulis: Amallia Wahyu Ningsih
Komentar
Posting Komentar