Memanfaatkan Sinar Matahari Proses Pengeringan Makanan Lokal Secara Tradisional pada Kerupuk Jengkol

 

Di tengah gempuran teknologi pengeringan modern (oven), para perajin kerupuk jengkol di berbagai daerah termasuk yang ada di desa Kuantan Sako produksi masih setia mempertahankan cara lama. Bagi para perajin, matahari bukan sekadar sumber panas, melainkan penentu kualitas rasa dan kerenyahan yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Proses pembuatan kerupuk jengkol dimulai dari pemilihan jengkol tua yang kemudian direbus, dikupas, dan ditumbuk hingga tipis (dipenyek). Setelah dibentuk bulat merata, lembaran-lembaran jengkol mentah ini disusun di atas kardus yang sudah tidak di pakai atau para-para bambu yang diletakkan di area terbuka. Tantangan cuaca dan ketelitian Bergantung pada alam berarti harus siap dengan risikonya. Proses pengeringan ini membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 2 hari penuh jika cuaca terik. Beberapa poin penting dalam proses ini meliputi:

·         Suhu Ideal: Penjemuran dilakukan mulai pukul 08.00 pagi hingga 16.00 sore untuk mendapatkan radiasi ultraviolet yang optimal.

·         Pembalikan Berkala: Agar tidak melengkung dan kering merata, kerupuk harus dibalik setiap beberapa jam.

·         Kelembapan: Jika mendung tiba-tiba datang, perajin harus sigap mengangkat jemuran agar kerupuk tidak lembap yang bisa memicu tumbuhnya jamur.

Nilai ekonomi dan pelestarian budaya dalam kerupuk jengkol yang dikeringkan secara tradisional memiliki daya simpan yang lebih lama dan tekstur yang lebih "mekar" saat digoreng. Hal inilah yang membuat harga jualnya tetap stabil di pasar lokal maupun di pedagang rumahan. Pemanfaatan sinar matahari ini juga menjadi bukti nyata penerapan ekonomi hijau yang ramah lingkungan. Tanpa bahan bakar fosil atau listrik berlebih, para perajin mampu menghasilkan produk pangan berkualitas tinggi yang menjadi primadona kuliner nusantara. Dengan mempertahankan tradisi ini, para perajin tidak hanya menjaga kualitas rasa, tetapi juga merawat warisan leluhur dalam mengolah hasil bumi secara harmonis dengan alam.

Penulis: Adinda Surya Tantia

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bendungan Danau Koto Kari Sebagai Sumber Utama Irigasi Pertanian

Sungai Siak Tercemar Akibat Limbah Industri

BALIMAU KASAI, TRADISI PEMBERSIHAN DIRI WARISAN BUDAYA MASYARAKAT KAMPAR