Umkm Desa Sungai Lala Memproduksi Berbagai Pangan Lokal

 



INHU, 03/01/2025- Desa Perkebunan Sungai Lala adalah sebuah desa di Kecamatan Sungai Lala, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau, Indonesia, yang fokus pada pengembangan ekonomi kreatif, religiusitas, dan ketahanan pangan dengan membentuk kelompok tani untuk mendukung pertanian perdagangan dan perikanan. Ada berbagai jenis pekerjaan yang dilakukan masyarakat di desa sungai lalal seperti bertani, dan berdagang. Banyak mayoritas penduduk bekerja sebagai pedagang maupun pengusaha UMKM. okus utama program kali ini tertuju pada optimalisasi potensi pangan lokal yang menjadi unggulan desa, yakni produksi tahu, tempe, tape, dan keripik singkong.

Desa Perkebunan Sungai Lala terus menunjukkan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pangan lokal. Produk unggulan seperti tahu, tempe, tape, dan keripik singkong menjadi fokus utama dalam program pengembangan UMKM yang dilaksanakan oleh pemerintah desa bersama berbagai pihak terkait. Bayaknya pengusaha UMKM tentunya tidak terlepas dari persaingan pasar.

Saat ini, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bergerak di bidang pangan tradisional seperti produsen tahu, tempe, tape, hingga keripik singkong sedang gencar melakukan berbagai inovasi demi mempertahankan eksistensi produk mereka di pasar. Upaya ini dilakukan secara kolektif untuk memastikan bahwa kualitas produk tetap terjaga, baik melalui strategi harga yang kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat, maupun melalui konsistensi kuantitas atau volume barang yang ditawarkan kepada konsumen.

Fenomena persaingan di sektor ini dapat dikategorikan sebagai persaingan yang sehat dan produktif. Hal ini dikarenakan setiap pengusaha umumnya telah memiliki pangsa pasar serta basis pelanggan setia yang sudah terbentuk sejak lama. Rantai pasok ini melibatkan berbagai lini ekonomi mikro lainnya, mulai dari pedagang gorengan kaki lima, penjual sate, hingga penyedia aneka jajanan pasar yang mengandalkan tahu dan tempe sebagai bahan baku utamanya. Tidak hanya untuk konsumsi harian, produk-produk UMKM ini kini juga telah naik kelas dan banyak diminati oleh wisatawan sebagai buah tangan atau oleh-oleh khas daerah.

Jadi para pengusa UMKM seperti tahu, tempe, tape dan kripik singkong berbindong-bondong untuk mempertahankan kualitas produknya. Baik dari segi harga yang lebih murah maupun kuantitas dari barangnya. Persaingan disini dikatakan sangat baik masing-masing dari para pengusaha tentunya sudah memiliki pelanggan yang tetap. Seperti pedagang gorengan, sate, maupun jajanan yang berbahan dasar tahu, dan tempe. Bahkan produk UMKM ini bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Salah satu sosok yang menjadi representasi ketangguhan UMKM ini adalah Bapak Mujito. Beliau merupakan seorang pengusaha dedikatif yang mengelola produksi tahu, tempe, tape, serta keripik singkong secara berkesinambungan. Bapak Mujito tercatat telah menjalankan roda usahanya selama kurang lebih 12 tahun. Perjalanan panjang yang beliau tempuh tentu tidak luput dari berbagai rintangan dan tantangan zaman. Dalam upaya mempertahankan loyalitas pelanggan dan standar mutu, Bapak Mujito sangat selektif dalam proses produksi. Hal ini dibuktikan dengan ketelitian beliau dalam melakukan proses hulu, seperti pemilihan biji kacang kedelai impor maupun lokal yang berkualitas tinggi serta seleksi ubi kayu (singkong) yang benar-benar bagus agar menghasilkan tekstur keripik yang renyah dan gurih. Namun, operasional usaha ini tidak lepas dari tantangan pasar, terutama terkait fluktuasi harga komoditas. Pak Mujito kerap dihadapkan pada kendala kenaikan harga kedelai yang cukup signifikan. Menghadapi situasi dilematis ini, beliau mengambil langkah penyesuaian yang strategis:

"ya kalau  harga kedelai di pasaran naik, saya memilih untuk tidak menaikkan harga jual tahu agar tetap terjangkau oleh pelanggan. Tapi  gantinya, saya menyesuaikan isi dari jumlah tahu maupun tempe dengan sedikit mengurangi isinya, jadi antara saya dan pembeli dapat sama-sama untung.”

Begitu juga dengan pemilihan ubi kayu atau ubi singkong, tidak sembarang ubi bisa dijadikan tape maupun kripik, harus benar-benar ubi yang sudah cukup umur tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda, agar hasil tape dan kripik dapat awet dan tahan lama.

“kalau pilih ubi harus yang cukup umur karena kalau di buat untuk tape dan kripik harus ubi yang kering biar tapenya juga gak gampang lembek, untuk kripik juga begitu, biar hasilnya renyah saat digoreng dan gak keras”

Dedikasi Pak Mujito dan para pelaku UMKM lainnya di Desa Perkebunan Sungai Lala menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan loksal sangat bergantung pada kecerdasan dalam beradaptasi kualitas dan kepercayaan konsumen menjadi kunci utama keberlangsungan usaha mereka.

Penulis : Meilani

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bendungan Danau Koto Kari Sebagai Sumber Utama Irigasi Pertanian

Sungai Siak Tercemar Akibat Limbah Industri

BALIMAU KASAI, TRADISI PEMBERSIHAN DIRI WARISAN BUDAYA MASYARAKAT KAMPAR