Karet Mendadak Jadi Tumpuan, Harga Naik Tapi Petani Masih Resah

 

Harga karet rakyat di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, belakangan ini mengalami perubahan yang cukup signifikan dan menjadi perhatian masyarakat, khususnya para petani dan pedagang karet. Kenaikan harga karet terlihat di sejumlah tempat penampungan dan pasar karet tradisional di beberapa kecamatan, sehingga komoditas yang selama ini dianggap biasa kembali menjadi tumpuan utama ekonomi masyarakat pedesaan. Kondisi ini memunculkan harapan baru, namun sekaligus menyisakan keresahan di kalangan petani karet.

Perubahan harga karet tersebut mulai dirasakan sejak akhir tahun 2025 dan terus berlanjut hingga awal tahun 2026. Di beberapa titik penjualan, harga karet menunjukkan kenaikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, meskipun belum sepenuhnya stabil. Kenaikan ini berdampak langsung terhadap aktivitas jual beli karet rakyat, terutama bagi petani kecil yang menggantungkan penghasilan harian dari hasil sadapan karet.

Lonjakan harga karet turut dirasakan oleh para petani yang menjual hasil kebunnya langsung ke pengepul. Salah satunya adalah Bapak Andi, seorang petani karet di salah satu desa di Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu. Ia menyampaikan bahwa kenaikan harga karet sebenarnya sudah mulai terlihat sejak beberapa bulan terakhir, meskipun nilainya sering berubah-ubah dan tidak menentu.

“Harga karet ini naik turun. Kadang naik sedikit, besoknya bisa turun lagi. Kalau lagi bagus, hasil sadapan lumayan membantu kebutuhan rumah, tapi kalau turun mendadak, kami petani susah mengatur pengeluaran,” ujar Bapak Andi saat ditemui pada awal Januari 2026. Menurutnya, kualitas karet sangat memengaruhi harga jual, di mana karet yang lebih bersih dan kering dihargai lebih tinggi dibandingkan karet basah atau tercampur kotoran. Namun, meskipun kualitas dijaga, harga tetap bergantung pada kebijakan pengepul dan kondisi pasar.

Kabupaten Rokan Hulu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil karet rakyat di Riau, sehingga perubahan harga karet memiliki dampak yang luas terhadap perekonomian masyarakat. Terbatasnya akses petani terhadap informasi harga, ditambah ketergantungan pada pengepul, membuat posisi petani karet masih lemah dalam menentukan harga jual. Selain itu, faktor cuaca dan biaya perawatan kebun juga memengaruhi jumlah produksi karet yang dapat dijual setiap minggunya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga karet mengalami kenaikan, belum sepenuhnya memberikan rasa aman bagi petani. Sebagian petani masih khawatir harga akan kembali turun secara tiba-tiba, seperti yang sering terjadi sebelumnya. Oleh karena itu, masyarakat berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah, khususnya dalam hal stabilisasi harga dan perlindungan petani karet rakyat, agar komoditas karet benar-benar dapat menjadi penopang ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Kabupaten Rokan Hulu.

Penulis: Widyawati

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bendungan Danau Koto Kari Sebagai Sumber Utama Irigasi Pertanian

TARI RENTAK BULIAN, MEDIA PENYEMBUHAN DAN KOMUNIKASI SPIRITUAL DARI RIAU

Sungai Siak Tercemar Akibat Limbah Industri